Sekilas Tentang Imam Al Aydrus
Beliau adalah panutan yang diakui kapabilitasnya, pemimpin para wali yang disepakati kewaliannya, pembawa bendera orang-orang arif, dasar dari ilmu orang-orang yang benar, pemegang simpul dan pemilik kharisma keagungannya Sadah Alawiyin.
Dalam 'al Musyri', disebutkan bahwa 'al Aydrus' adalah gelar terhadap pimpinan para wali. Sebagian orang mengatakan 'al Itrus' yang diambil dari nama singa. Jauhari berkata bahwa 'al Itrasah' adalah menempuh jalan kekerasan, ciri dari harimau. Al Allamah Muhammad bin Umar Bahraq berkata “Bisa saja huruf ta’ (ت ) dalam kalimat 'al Aydrus' diganti dengan huruf dal karena berasal dari satu makhraj (tempat keluarnya huruf di mulut), kita mengetahui bahwa singa adalah pemimpin dari hewan buas, sedangkan al ‘Aydrus merupakan pemimpin dari para wali di zamannya.
Kelahiran dan Riwayat Hidup
Lahir (semoga Allah meridhoinya) pada 10 Dzulhijjah tahun 811. Ketika kakeknya Syekh Abdurrahman as Segaf mendengar kabar kelahirannya, beliau berkata "Ia adalah seorang sufi di zamannya yang hafal al Qur'an". Imam Al Aydrus belajar kepada kakeknya 'Syekh Abdurrahman' selama 8 tahun. Kakeknya pernah mengatakan bahwa beliau akan memiliki kelebihan tertentu.
Beliau tumbuh dalam kemuliaan di bawah bimbingan ayahnya Imam Abu Bakar as Sakran, yang sangat menyayangi beliau di masa kecil dan mengayominya dengan kasih sayang. Beliau mendapatkan kharisma sang ayah.
Imam Abu Bakar as Sakran meninggal ketika beliau berumur 10 tahun. Setelah itu beliau dirawat dan dibimbing oleh pamannya Syekh al Imam al Mighwar al Syekh Umar al Muhdar. Beliau senantiasa dalam pantauan pamannya, dibimbing bersama saudaranya yang lain dengan budi pekerti mulia dan amal perbuatan sesuai dengan ajaran al Qur'an dan As Sunnah. Rahasia kebapakan seluruhnya dilimpahkan kepadanya sehingga dirinya mendapat kedamaian, keimanan, keyakinan, dan ihsan. Semenjak kecil tumbuh dalam lingkungan ilmu, amal, mempelajari alQur'an, hadits, bahasa Arab, dan beliau bersungguh-sungguh menekuninya. Beliau juga dikirim ke beberapa Syekh pada zaman itu untuk mendapatkan berkah, menempa diri bersama mereka dan mempelajari ilmu yang berhubungan dengan lahir dan batin. Para Syekh yang pernah menjadi gurunya antara lain adalah:
- Al Faqih Said bin Abdullah Ba Abid
- Syekh al Allamah Abdullah Ba Marawan
- Al Alim al Rabbani Syekh Ibrahim Ba Harmaz
- Syekh al Allamah Abdullah Ba Qusyair
Beliau banyak mempelajari hadits dari beberapa ahli hadits dan perawi di Hadramaut, Yaman, dan Hijaz. Beliau mempunyai perhatian khusus terhadap kitab al Tanbih, al Khulashoh dan al Minhaj, dengan senantiasa mempelajari, menganalisis dan mengkajinya dengan teliti. Beliau juga belajar ilmu tasawuf kepada Sayyid al Jalil Muhammad bin Hasan Jamalullail. Juga kepada paman-paman beliau: Ahmad, Syekh, Muhammad, dan Hasan. Belajar bahasa Arab kepada al Allamah al Adib Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Ba Fadal. Sedangkan ilmu Nahwu dan Shorrof dipelajarinya dari Syekh al Allamah Muhammad bin Ali Ba Ammar dan lainnya.
Mujahadah dan Riyadhah
Dari keterangan yang ada di beberapa kitab, mujahadah beliau adalah sebagai berikut: “Mujadahnya laksana lautan yang tak bertepi, bagaikan bendera perang di tangan prajurit sejati". Paman beliau Syekh Umar al Muhdar berkata “keponakanku menempuh mujahadah di saat berusia tujuh tahun, berpuasa dan berbuka hanya dengan tujuh korma dan tidak makan selain itu. Selama setahun ia tidak pernah makan kecuali hanya dengan lima mud." Syekh Umar al Muhdar juga berkata: “Tatkala tahap permulaanku, aku mengkaji buku-buku kaum sufi dan menguji diriku dengan mujahadah mereka, senantiasa berlapar, dan meninggalkan tidur dari usia 20 tahun”.
Beliau selalu bersama pamannya Syekh Umar al Muhdar dalam menempuh tahapan ajarannya. Kemudian Syekh Umar al Muhdar mengawinkan beliau dengan putrinya. Syekh Umar al Muhdar berkata “Aku akan mengawinkan putriku dengannya walaupun dia mempunyai sedikit harta benda, dan aku tidak akan mengawinkan putriku dengan selain dia walaupun dia mempunyai harta benda yang melimpah yang diberikan kepadaku."
Pamannya memakaikan kepadanya khirqah tasawuf dan men-tahkimnya serta menyatukan auranya dengan sang pamannya tersebut, yang dari pamannya itu didapat banyak ilmu lahir dan batin. Pamannya menjadikannya sebagai pengganti sesuai dengan kemampuannya, melampaui derajat para Syekh yang agung, dan mendapatkan posisi yang sulit untuk dicapai. Para ulama mengakui akan ketinggian derajatnya dari dahulu hingga sekarang.
Kedudukan Sebagai Pemuka Umat Sepeninggal Pamannya
Disebutkan dalam kitab Al Kawakib al Durriyah bahwa sosok Syekh al Aydrus suka menyepi, karena dengan menyepi beliau dapat sampai kepada Allah SWT. Ketika paman beliau Syekh Umar al Muhdar wafat, usia Imam al Aydrus baru 25 tahun. Para Syarif sepakat bahwa yang menggantikan posisi pamannya adalah Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail yang berada di Barughah. Akan tetapi Imam Muhammad bin Hasan Jamalullail menolak, beliau berkata “Tunjukkanlah pada kami siapa yang berhak kedudukannya diantara kita." Akhirnya, setelah shalat istikharah, Allah meyakinkan hatinya untuk menjadikan Imam al Aydrus sebagai pengganti. Sambil memegang tangannya Imam al Aydrus, beliau berkata kepada Imam al Aydrus "Engkau adalah pemuka dari mereka dan penunjuk bagi setiap syarif dan yang bukan syarif." Imam al Aydrus menampik karena usianya yang masih belia dan ketidakmampuan dirinya, ditambah paman-pamannya yang lain masih ada. Namun mereka terus membujuknya untuk menerima posisi tersebut. Akhirnya semua sepakat untuk menjadikan beliau sebagai pemimpin dan namanya kesohor ke penjuru dunia. Beliau menyibukkan dirinya dengan pengajaran dalam tarikan nafasnya yang sangat berharga.
Posisinya Sebagai Tumpuan Murid dalam Pengajaran dan Penempatan Diri Imam al Aydrus adalah seorang figur yang mumpuni dalam hal pengajaran. Apabila ia mengajar di bidang tafsir maka ialah yang paling mengusai bidang itu, dalam ilmu hadits ia adalah pemegang rawinya, dalam ilmu fiqh ia adalah tolak ukur pemahamannya dan semuanya menyimak pada pelajarannya. Ajaran tasawufnya membuat para muridnya menangis, dalam hal tarekat beliau menyampaikannya dengan metode yang menakjubkan dan sistem yang luar biasa dengan ajaran yang mudah dicerna. Dalam dirinya terkumpul ilmu, amal, hal, obsesi, dan wejangan. Sebagaimana dituturkan oleh Syekh Kabir Muhammad bin Ahmad Ba Qusyair: "Setiap hati mengakui akan kewaliannya, dan setiap sanubari penuh dengan rasa cinta kepadanya. Semua milik Allah, betapa tinggi keutamaannya, betapa banyak limpahan yang diberikan Allah kepada siapa yang berada dalam asuhan-Nya. Sungguh ia adalah pemuda beruntung, yang keagungannya tak diragukan lagi, katakanlah sesukamu pada keutamaan yang diperolehnya."
Murid-muridnya
Banyak dari tokoh mulia dan para mujtahid yang belajar kepada Imam al Aydrus, diantaranya adalah:
- Saudaranya, Syekh Ali bin Abu Bakar
- Syekh Umar bin Abdurrahman Shahib al Hamra
- Syekh Abdullah bin Ahmad Ba Kastir
- Syekh Ahmad Qasam bin Alwi al Syaibah
- Syekh Muhammad bin Afif al Hijrani
- Putranya, Syekh Abu Bakar al Adny bin Abdullah al Aydrus
- Putranya, Syekh Husain bin Abdullah al Aydrus
- Putranya, Syekh Syaikh bin Abdullah al Aydrus
Disebutkan dalam kitab “al Kawakib al Durriyah” bahwasanya Imam al Arif Billah Muhammad bin Ali Shahib Aidid, Tajul Abidin Saad bin Ali, dan Syekh Abdullah bin Abdurrahman ba Wazir dengan derajat yang di milikinya serta ketinggian kedudukannya, senantiasa menemani, mengikuti serta mengambil ajarannya, karena mereka menyadari akan ketinggian kedudukan dan maqam Imam al Aydrus.
Pola Pandang dalam Bimbingan dan Keilmuan
Imam al Aydrus berkata “Kita tidak mempunyai sistem dan metode kecuali al Qur'an dan as Sunnah. Di mana semua itu telah dipaparkan oleh Hujjatul Islam al Ghazali dalam karya monumentalnya yang sangat berharga yakni ”Ihya Ulumuddin” yang merupakan penjelasan dari al Qur'an dan Hadits yang awal ataupun yang akhir, yang konkrit maupun yang abstrak, yang berkenaan dengan suri tauladan maupun keyakinan.”
Beliau melarang sahabatnya untuk mempelajari kitab “al Futuhat al Makkiyah” dan kitab “al Fushus” dan menganjurkan untuk berbaik sangka kepada penyusunnya dan meyakini bahwa ia salah seorang wali besar yang arif billah.
Adapun karyanya yang kontroversi dikarenakan kedalaman pemahaman yang tidak dapat dimengerti oleh masyarakat umum, berbeda dengan karya-karya Hujjatul Islam yang dapat diterima oleh pemahaman akal, dapat dipelajari oleh masyarakat umum, orang-orang khusus maupun orang awam. Beliau (semoga Allah meridhoinya) berkata “Ketahuilah bahwa tarekat adalah takut kepada Allah SWT. Sedangkan hakekat adalah pencapaian tujuan dan persaksian cahaya penampakan (Nuruttajalli). Hakekat dari maqamat adalah tempat-tempat yang bersemayam dalam hati. Yang awalnya berupa pelaksanaan perintah dan meninggalkan segala bentuk larangan, dan terakhir mengetahui cela diri, menyucikannya dari sifat-sifat yang tercela, menghiasinya dengan sifat yang terpuji, serta senantiasa berdzikir kepada tuhannya."
Celanya hati sangatlah banyak, dan yang paling besar adalah kebanggaan seseorang terhadap amal taatnya (ujub). Seorang saleh (penempuh jalan Allah) tidak akan berpindah kepada maqam yang lebih tinggi kecuali telah memenuhi semua kriteria dalam maqam sebelumnya.
Adapun ahwal adalah tarb (keasyikan) atau qabd (penangkapan) atau bast (pelepasan/kelapangan), atau syauq (kerinduan), atau dzauq (rasa), atau haibah (wibawa), atau uns (ketenangan jiwa), atau wajd (kegembiraan/cinta), atau tawajud (kesan dari cinta) atau jamak (berkumpul) atau farq (berpisah) atau fana’ (ketiadaan) atau baqa` (tetap ada)atau ghaibah (tidak sadar) atau sakr (mabuk) atau sahw (keadaan sadar) atau sarb maknawi (minuman jiwa) sebagaimana juga akan menemukan kedekatan dengan Allah SWT, cahaya penampakan, mukasyafah (penyingkapan hal abstrak), siraman nurani, atau mahw (penghapusan), atau istbat (penetapan) atau penutupan tabir atau penampakan atau kehadiran atau muhadarah (penghadiran) atau lawaih (penampakan tulisan) atau secercah cahaya atau kenaikan atau penciptaan atau pengokohan atau lainnya.
Adapun tarikan nafas (dzikir) dan ketenangan hati dengan kelembutan yang ghaib. Pemilik nafas ini lebih murni (lebih sempurna) dari pemilik ahwal, pemilik ahwal lebih murni dari pemilik maqam, dan pemilik maqam lebih murni dari seorang abid (ahli ibadah), dan abid yang mengamalkan ilmu dzahir (fiqh) lebih murni dari orang awam yang beribadah dengan menggunakan rukhsah (keringanan dalam syariat), dan pengamal syariat dengan menggunakan keringanan ini lebih murni dari mereka yang lalai.
Dan orang yang mencapai kesempurnaan adalah mereka yang pada dirinya terdapat semua ciri-ciri di atas. Mereka adalah para ulama Allah SWT dan yang tahu segala perintah Allah dalam syariat, tarekat, dan hakekat. Mereka adalah Ulama pewaris para Nabi.
Pandangannya Terhadap Ulumul Kaum (istilah ilmu tasawwuf di Hadhramaut) Di antara bidang keilmuan yang termasuk ulumulqaum antara lain: ilmul yakin, ainul yakin, haqqul yakin. Ilmu yakin dimiliki oleh para pengguna akal, ainul yakin terdapat pada kalangan ahli ilmu, sedangkan haqqul yakin dimiliki ahli makrifat dan persaksian.
Bentuk persaksian banyak, antara lain persaksian hati dari pengaruh yang meliputinya dari persaksian terhadap ilmu, ahwal, dan mukasyafah. Hati adalah tempat dari segala sifat yang terpuji, dan ruh merupakan kelembutan hati nurani, ia memiliki peningkatan maknawiyah di saat tidur ketika sukma meninggalkan raga kemudian kembali lagi kepadanya. Manusia terbina dari ruh/sukma dan raga, sebab Allah SWT menjadikan pada susunan itu keterkaitan antara satu dengan lainnya, kebangkitan berada dalam susunannya sendiri, pahala dan adzab berada dalam lingkupnya sendiri, arwah diciptakan, ruh sumber kebajikan, nafsu sumber kejahatan, akal tempat bersemayamnya arwah, dalam nafsu bersemayam hawa, dan sirr (rahasia Allah SWT yang dititipkan pada seorang wali) adalah cahaya maknawiyah tempat dari persaksian, arwah tempat cinta dan kasih sayang, dan hati merupakan bejana makrifat. Salah seorang ahli makrifat berkata “Sirr sesuatu yang dirimu masih menyadarinya, sedangkan sirrussir apa yang tidak dapat terlihat kecuali yang Haq. Dan sirr lebih agung dari arwah, ruh lebih agung dari hati, sedangkan dada dari orang yang merdeka (dari hawa nafsunya) adalah tempat (kuburan) dari rahasia-rahasia Allah.
Wallahu a'lam bishawab.



No comments:
Post a Comment