05 May, 2015

INSAN KAMIL : Kesempurnaan Ilmu Nabi



INSAN  KAMIL
SOSOK  KETELADANAN  MUHAMMAD  SAW
Karya :
DR.Sayyid Muhammad Alwy al-Maliki



BAB  I
Bakat  dan  Sifat  Nabi


O.   Kesempurnaan Ilmu Nabi

Bahwasannya Nabi SAW berilmu sangat luas, berakal pikiran yang cerdas, dan bahwa segala ilmu yang tinggi dan bermanfaat telah dilimpahkan Allah kepadanya, hal itu telah ditegaskan oleh firmannya:

وَاَنْزَلَ اللهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَالَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا (النساء : ١١٣)

Artinya: “Dan Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan mengajarkan kepadamu, apa yang belum kamu ketahui dan adalah karunia Allah sangat besar kepadamu.”
(QS. An Nisa’: 113)

Dengan demikian, beliau adalah yang paling luas ilmunya di antara semua hamba Allah. Dan sangat kuat dalam mengabdikan diri kepada Allah, sebagaimana yang telah diriwayatkan Al-Bukhary, bahwa Nabi SAW bersabda: ”Yang paling takut dan taqwa, dan paling mengetahui dan mengenal Allah adalah saya sendiri Siapa yang merenungkan ajaran yang disampaikan Allah kepada para Rasul dan Nabi-Nya, seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, akan jelas terlihat kepadanya, bahwa Nabi kita, telah dikaruniai berbagai ilmu yang jauh lebih luas dan lengkap, dibanding dengan Rasul dan Nabi yang lain, karena pengertian (mengajar kepadamu apa yang belum kamu ketahui) mengandung makna, bahwa yang tidak diketahui olehnya meliputi semua ilmu yang diberikan oleh Allah kepada para Rasul dan Nabi-Nya ditambah pula dengan ilmu-ilmu yang lain yang diajarkan Allah kepada beliau secara khusus.

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah pernah ditanya oleh beberapa orang dan pertanyaan itu sedemikian banyaknya dan bertele-tele. Maka beliau naik di atas mimbarnya dan bersabda: “Silakan kalian bertanya kepadaku. Semua pertanyaan kalian akan kujelaskan.” Dalam riwayat lain, dengan tambahan “selagi aku di tempat ini.”

Dalam sebuah hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: “Tak pernah aku mengalami hari sebagaimana hari ini, tentang baik dan buruknya, diperhatikan kepadaku surga dan neraka, maka aku melihat gambaran keduanya di balik dinding ini.”

Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada Nabi kita SAW yang menghimpun segala ilmu pengetahuan dan diriwayatkan dalam kitab Al-Musnad, bahwa Nabi SAW bersabda: “Aku adalah Muhammad Nabi yang ummi, tiada Nabi sesudahku. Aku diberi oleh Tuhan rahasia segala sesuatu. Aku mengetahui berapa jumlah penjaga neraka, dan pembawa ‘arsy Tuhan,” (diucapkan tiga kali).

Dalam hadis-hadis tentang Isra’ dan Mi’raj juga diriwayatkan: “Aku dimasukkan surga dan kulihat di sana timbunan mutiara, sedang tanahnya kasturi yang harum semerbak.”

Adapun tentang alam barzakh, alam mahsyar dan keadaan manusia di sana kala itu, apa yang dialami selanjutnya, baik mengenai timbangan amal, menyerahkan lembaran yang berisi perbuatan masing-masing, tentang perhitungan di sirath, dan seterusnya, semua telah diberitahukan oleh Allah kepadanya. Beliau telah menceritakan seluruhnya dalam berbagai hadis.

Demikian juga alam tertinggi Al-Malaul A’la dan segala apa yang berlangsung di sana, telah ditampakkan kepadanya oleh Tuhan dengan jelas, seperti dalam hadis riwayat Ahmad dan At-Turmidzy bahwa Nabi SAW bersabda: “Saya bangun di malam hari dan shalat. Di tengah shalat, mata serasa berat mataku karena menahan ngantuk. Kemudian kurasakan seolah-olah saya di hadapan Tuhanku yang berfirman kepadaku: “Hai Muhammad, mengapa penghuni alam nan tinggi itu berselisih” Maka kujawab: “Saya tidak mengetahuinya.” Sedang menurut riwayat At-Thabrany dengan tambahan, “Maka Allah memberitahukan kepadaku segala sesuatu.” Dan dalam riwayat At-Thabrany yang lain: “Dan segala sesuatu yang ditanyakan kepadaku, aku telah, mengetahuinya.”

Ilmu pengetahuan Nabi SAW yang sedemikian luasnya itu mencakup juga segala macam makhluk, termasuk alam hewan dengan segala sesuatu yang bersangkutan dengan alam yang serba ajaib itu.

At-Thabrany meriwayatkan bahwa, Abu Darda’ berkata: “Tidak satu pun yang ketinggalan dan tidak diberitakan kepada kita oleh Rasulullah. Sampai-sampai tiada seekor burung pun yang terbang di angkasa yang tidak disebutkan kepada kita. Apa yang patut diketahui. Hadis serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Cerita Nabi SAW kepada sahabatnya tentang alam burung, menunjukkan betapa luas pengetahuan beliau akan isi jagad raya ini. Semua yang diterangkan itu tentunya yang ada dan rapat hubungannya dengan kebahagiaan manusia, dilihat dari berbagai segi. Semua hal yang bertalian dengan hidup dan penghidupan ini, serta semua jalan menuju bahagia telah diterangkan beliau. Lautan ilmu yang begitu luasnya, memang tak mungkin diketahui melainkan oleh Tuhan yang melimpahkan ilmu itu kepadanya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi SAW pernah keluar dari rumahnya dan matahari sudah mulai tergelincir ke sebelah barat, maka beliau bersholat dzuhur. Setelah selesai beliau naik ke atas mimbar berkhutbah. Beliau menerangkan hal ihwal hari qiamat, dan peristiwa besar menjelang kedatangannya. Beliau berkata: “Siapa akan bertanya, silakan? Demi Allah, apa saja yang ditanyakan kepadaku akan kuterangkan kepadamu selagi saya berada di tempat ini!” Selanjutnya Anas menjelaskan; maka terdengar suara tangisan golongan kaum Ansar, dan Rasulullah mengulang berkali-kali; “Silakan kalian bertanya kepadaku”. Tiba-tiba bangkit seorang laki dan bertanya: “Ya, Rasulullah siapakah nama ayahku?” Maka Nabi segera menjawabnya: “Ayahmu Khuzafah,” dan beliau masih terus menerus mengulangi kata-kata, “Silakan kalian bertanya kepadaku?” Maka Umar bangkit berdiri, lalu duduk bersimpuh di kaki Nabi SAW seraya berkata: “Kami rela, Allah sebagai Tuhan, dan Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasulnya.” Nabi diam sejenak, mendengar ucapan ‘Umar. Kemudian melanjutkan kata-katanya; “Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, surga dan neraka telah diperlihatkan tadi kepadaku di balik dinding ini, di saat saya sedang shalat. Saya tidak pernah mengalami hari seperti sekarang ini.” Demikian beliau mengakhiri khutbahnya.

INSAN KAMIL : Kondisi Tubuh dan Kekuatan Nabi



INSAN  KAMIL
SOSOK  KETELADANAN  MUHAMMAD  SAW
Karya :
DR.Sayyid Muhammad Alwy al-Maliki



BAB  I
Bakat  dan  Sifat  Nabi

Kelanjutan dari Cara Nabi Memilih Utusan

N.   Kondisi Tubuh dan Kekuatan Nabi

Kondisi tubuh yang sehat dan kuat, di samping ketabahan hati, bersatu padu dalam diri Nabi SAW itulah sifat kejantanan yang amat sempurna.

Ibnu Sa’d dan Ibnu Jarir, demikian Ibnu Abi Hatim dan Al-Baihaqy serta Abi Nuaim dan Al-Bukhary, kesemuanya meriwayatkan dari Jabir yang mengisahkan pengalamannya menjelang hari-hari perang Khandaq, yang penuh diliputi oleh suasana ketakutan. Jabir berkata: “Kami sedang giat-giatnya menggali parit untuk pertahanan kota Madinah. Lalu muncullah sebuah batu besar dalam parit yang sedang digali beramai-ramai. Kami datang melaporkan kepada Nabi SAW dan beliau segera bangun, lalu turun ke dalam parit. Sedang perutnya karena lapar diikat dengan batu, sebab tiga hari kami tidak makan apa pun. Maka dengan cangkul di tangannya, dipecahkan batu besar itu. Dan dalam sekejap mata, jadi tumpukan tanah yang tumpah berserakan.

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa para sahabat tidak datang melapor kepada Nabi SAW, melainkan setelah berusaha sekuat tenaga memecah batu yang keras dan besar itu. Bahkan sudah banyak linggis dan cangkul yang dipergunakan, menjadi patah dan rusak.

Sedang dalam riwayat lain diterangkan, bahwa Nabi SAW memukul batu raksasa itu, hanya tiga kali pukulan saja. Yang mengagumkan, batu besar itu hanya bertahan tiga kali saja menghadapi pukulan beliau, setelah tangan para sahabat tidak mampu memecah atau menyingkirkannya. Itu pun terjadi di saat beliau sedang lapar. Kiranya sudah jelas betapa pengaruh lapar terhadap kondisi badan. Dan bayangkan bagaimana pula kekuatan beliau itu andaikata tidak lapar yang sangat, karena selama tiga hari berturut-turut tidak merasakan makanan apa pun.

Abu Nuaim dan Al-Baihaqy, meriwayatkan dari jalan Ishak bin Yasar, bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Rukanah: “Silakan anda masuk Islam.” Rukanah dengan congkaknya menjawab: “Kalau aku mengetahui bahwa agamamu itu benar, tentu sudah lama aku memasukinya.”

Rukanah terkenal jagoan yang kuat lagi ditakuti itu, ditanya oleh Nabi SAW: “Bagaimana seandainya kalau aku dapat membanting engkau ke tanah?”

“Cobalah!” ujar Rukanah bangga. Maka Nabi mendorongnya dua kali, dan dia terhempas jatuh ke tanah, menggelepar tak berdaya. Kemudian dia mencoba bangkit kembali, sambil berkata: “Ini adalah sihir belaka. Demi Allah aku tidak menguasai diriku, hingga aku terpelanting jatuh ke tanah.” Hadis ini ada pula yang meriwayatkan dari jalan Rukanah sendiri, yang menegaskan, bahwa dia kemudian masuk Islam. Perhatikanlah pengakuan Rukanah, bahwa dia tidak dapat menguasai dirinya sedikitpun hingga jatuh tersungkur, dan sekaligus berarti bahwa Nabi, tidak memegang benda apapun di tangannya. Sedang Rukanah yang terkenal kuat, dan kekar tubuhnya itu sangat ditakuti orang-orang Quraisy. Dan tak pernah dikalahkan.

INSAN KAMIL : Cara Nabi Memilih Utusan



INSAN  KAMIL
SOSOK  KETELADANAN  MUHAMMAD  SAW
Karya :
DR.Sayyid Muhammad Alwy al-Maliki

  
BAB  I
Bakat  dan  Sifat  Nabi

Kelanjutan dari Keluwesan Nabi SAW

M.   Cara Nabi Memilih Utusan

Kesempurnaan akal pikiran Nabi SAW terbukti pula dalam memilih utusan yang cerdik pandai untuk dikirim ke raja dan para penguasa untuk menyampaikan dakwah islamiyah melalui penjelasan dan penerangan, dan dapat diterima. Hal itu terbukti dalam sejarah, betapa utusan Nabi SAW itu mengetengahkan dan menguraikan tentang Islam dan ajarannya di hadapan para penguasa dan raja-raja. Betapa pula kemantapan dalih yang diucapkan, di samping kelincahan dan kelancaran dalam berdialog dan berbicara.

Alaa’ bin Hadhramy yang diutus Nabi pada raja Al-Mundzir bin Sawaa, membawa sepucuk surat beliau dalam dialognya dengan raja tersebut antara lain berkata: “Wahai Mundzir, Anda adalah seorang besar, tentu besar pula dalam berpikir, maka janganlah menjadi kecil di kampung akhirat kelak. Agama Majusi yang anda peluk tidak menjadi kehormatan bagi bangsa Arab, seperti juga tidak dikenal oleh ahli kitab. Sedang penganutnya melakukan perkawinan dengan.... (rasanya malu untuk disebutkan di sini).”

“Mereka makan apa yang tak layak dimakan serta menyembah api yang akan membakar hangus diri mereka di hari kiamat. Anda bukan seorang yang tidak berakal, maka renungkanlah. Apakah seseorang yang tak pernah berdusta di dunia ini, tak pernah berkhianat dan tak ingkar akan janji, adakah seorang yang sedemikian itu harus tidak dipercaya? Dialah seorang Nabi yang ummi. Dan demi Allah tak seorang pun yang berakal dapat berkata, bahwa apa yang dilarang itulah yang diperintahkan. Apa yang diperintahkan olehnya, itulah yang dilarang. Segala yang datang darinya benar-benar sejalan dengan apa yang didambakan oleh semua ahli pikir yang berpandangan jauh.”

Al-Mundzir kemudian berkata: “Setelah aku berpikir tentang agamaku ini, agama Majusi, maka kudapati bahwa agama itu hanya untuk dunia semata-mata, bukan untuk akhirat. Dan setelah aku berpikir tentang agama Anda, saya berkesimpulan, bahwa agama itu untuk dunia akhirat. Maka, apakah gerangan yang menghalangi diriku menerima sesuatu agama, yang menjadi harapan dalam kehidupan ini dan kesenangan setelah mati. Dahulu aku heran memang kepada yang menerima baik agama itu. Tapi kini sebaliknya aku sangat heran kepada yang menolaknya. Dan dalam rangka menghormati apa yang dibawa oleh Nabi SAW itu, maka utusan pribadinya yang diutus kemari harus dihormati. Aku masih akan melihat perkembangan lebih jauh.” Demikianlah raja AI-Mundzir mengakhiri pembicaraannya. Artinya, dia masih harus melihat apa yang harus dilakukan terhadap Rasulullah SAW. Apakah akan pergi langsung menemui atau cukup menjawab suratnya saja, bukan berarti masuk atau tidak dalam Islam. Karena ucapannya, bahwa aku heran kepada siapa yang menolak agama itu adalah pengakuan tegas, bahwa Islam adalah agama benar dan harus diikuti.

Al-Muhajir bin Umayyah Al-Makhzum saudara kandung Ummu Salamah istri Rasulullah yang diutus oleh Nabi SAW kepada Al-Harj bin Khilal, Raja Himyar, kepada Al-Muhajir berkata setelah berhasil menemuinya: “Ya, Harj. Anda adalah orang pertama yang menerima tawaran langsung dari Nabi SAW. Maka janganlah berpaling darinya. Anda seorang raja besar. Namun bila Anda melihat keagungan dan kebesaran kerajaan, jangan lupa akan raja dari segala raja. Dan bila Anda selalu gembira, jangan lupakan hari esok. Sebelum Anda, sudah banyak raja-raja yang lenyap sirna. Hanya tinggal bekas dan ceritanya belaka. Mereka hidup lama, bercita-cita tinggi, namun ada yang disambar almaut. Ada pula yang ditimpa bencana.  Sedang aku mengajak Anda, kepada Tuhan Allah, bila Anda menghendaki petunjuk yang benar. Dia tidak menolaknya. Dan apabila Dia menghendaki, tiada seorang pun dapat menghalangi-Nya. Saya mengajak pula agar Anda percaya kepada Nabi yang ummi, yang keindahan ajarannya tiada yang melebihi, dan larangannya tiada yang lebih buruk dari padanya. Ketahuilah, bahwa ada Tuhan yang menghidupkan dan mematikan Anda. Dia Maha Mengetahui gerak mata setiap orang dan apa yang tersembunyi dalam dadanya.” (dikutip dari kitab Raudhul Unuf).

Hathib bin Abi Balta’ah bercerita: “Aku diutus Rasulullah SAW membawa suratnya kepada Muqauqis, raja muda yang bersemayam di Iskandariyah, Mesir. Sambutan baginda kepadaku sangat ramah-tamah sekali. Setelah aku diterima dan tinggal di sana selama beberapa hari, aku dipanggil menghadap baginda di ruang istananya, yang telah penuh dengan pejabat-pejabat tinggi dan pimpinan gereja. Mereka datang berkumpul di sana atas undangan Muqauqis tentunya. Setelah datang dan mengambil tempat, baginda bertanya kepadaku: “Aku ingin berbicara dengan Anda, dan harapanku agar memperhatikan benar-benar apa yang kubicarakan”.”

“Baiklah! Silakan,” jawabku singkat.

“Cobalah ceritakan kepadaku, siapakah gerangan kawanmu (Muhammad) itu?” Sambungnya lagi, “Apakah dia itu benar-benar seorang Nabi?”

“Dia benar-benar seorang Nabi utusan Allah,” jawabku lagi tegas. Kemudian baginda melanjutkan pertanyaannya dan berkata: “Kalau demikian mengapa dia tidak memohon dan berdo’a saja kepada Tuhan agar mengutuk dan menimpa azab kepada kaumnya yang telah mengusir dan mengeluarkan dari negeri dan tanah airnya, hingga ia terpaksa pindah ke negeri lain.”

Mendengar itu, aku pun bertanya kembali dan kukatakan kepadanya: “Bagaimana pendapat baginda, bahwa Isa adalah utusan Allah?”

Ya benar, dia utusan Allah,” jawab Muqauqis cepat.

“Apa sebab Isa tatkala dikejar-kejar musuh musuhnya, akan dibunuh dan disalib tidak berdo’a dan memohon kepada Tuhan, agar membinasakan manusia-manusia durhaka. Dia sampai diangkat oleh Allah ke langit?” Demikianlah apa yang kukatakan kepada Maqauqis, sambil kutatap mukanya yang cerah itu. Dia terdiam seakan berpikir demi mendengarkan pertanyaan yang tak diduga itu. Lalu baginda berkata: “Bagus! Bagus! Anda seorang yang bijak diutus oleh Rasul yang bijak pula.”

Dia lalu mengirim hadiah pada Rasulullah SAW yang berharga berupa pakaian dan barang-barang lain. Di antara hadiah hadiah itu, tiga budak perempuan. Seorang yang bernama Mariyah Qibtiyah kemudian dikawin oleh Nabi SAW dan melahirkan anak laki-laki yaitu Ibrahim. Sedang kedua Iainnya dikawin oleh Abu Jaham bin Huzaifah Al-Adawy, dan Hasan bin Tsabit Al-Anshary.

04 May, 2015

INSAN KAMIL : Keluwesan Nabi SAW



INSAN  KAMIL
SOSOK  KETELADANAN  MUHAMMAD  SAW
Karya :
DR.Sayyid Muhammad Alwy al-Maliki



BAB  I
Bakat  dan  Sifat  Nabi

Kelanjutan dari Kewaspadaan Nabi SAW

L.   Keluwesan Nabi SAW

Kesempurnaan akal Nabi SAW dapat pula dilihat dalam keluwesan dan cara pergaulannya pada masyarakat ramai dan mudahnya menyesuaikan diri dalam berbagai macam tingkat dan lapisan. Untuk menarik mereka ke dalam agama yang dibawanya, bahkan beliau dengan ramah tamah dan luwes (supel) menghadapi orang-orang yang dungu dan rendah untuk menyenangkan hati mereka, dan membawanya ke arah yang benar. Dengan muka dan bersikap manis, beliau menghadapi setiap orang walaupun yang durjana dan jahat sekalipun. Sabdanya: “Berlaku luwes terhadap semua manusia itu juga sedekah.” (HR. At-Thabrany).

Keluwesan dalam bergaul adalah terpuji. Itu bukan sifat menjilat. Keluwesan adalah kepandaian menyesuaikan diri dalam bergaul bersama, demi kepentingan dunia dan agama. Sedang sifat menjilat itu ialah mengorbankan diri dan agama untuk kepentingan duniawi. Maka antara keduanya jelas tampak garis perbedaannya.
Sebelumnya Selanjutnya Home